26th Yogyakarta Gamelan Festival Dibuka, Konser Gamelan Berlatar Wayang Kreasul Sapto Raharjo

26th Yogyakarta Gamelan Festival Dibuka, Konser Gamelan Berlatar Wayang Kreasul Sapto Raharjo

YOGYAKARTA, 23 September 2021- Perhelatan 26th Yogyakarta Gamelan Festival atau Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) ke-26 dibuka dengan penampilan Sanggar Anak Seni Nusantara Sekar Jati Laras berlatar wayang Kreasul karya Sapto Raharjo, Kamis (23/9/2021). Tidak hanya gamelan yang memenuhi panggung YGF ke-26, di bagian belakang terpampang deretan wayang kontemporer.

Sapto Raharjo, penggagas YGF, membuat wayang Kreasul pada 1975. Keunikan wayang kontemporer ini terletak pada nama para tokoh wayangnya yang unik, seperti Gatotkaca Kribo, Arjuna Baju Loreng Gawa Pistol, Buto Rewog, dan sebagainya. Tidak hanya itu, wayang-wayang Kreasul buatan Sapto Rahardjo ini memiliki warna yang mencolok (warna neon).

Sapto Raharjo pernah mementaskan wayang-wayang kreasul, antara lain, di Shopping Center Sasana Triguna pada 1975, halaman SMAN 3 pada 1976 dan 1977, serta Purna Budaya pada 1979. Semasa hidupnya, Sapto Raharjo memainkan wayang-wayang buatannya diiringi dengan gending ketawang subakastawa slendro pathet sanga. Lirik-liriknya dikarang oleh Sapto Rahardjo.

Pergelaran YGF ke-26 ini disaksikan secara daring via www.YGFlive.com dengan jumlah penonton mencapai ratusan pada konser hari pertama.

Penonton yang menyaksikan YGF pada hari pertama ini tidak hanya berasal dari berbagai daerah di tanah air, seperti, Palangkaraya, Makassar, Bandar Lampung, dan daerah-daerah di Jawa, melainkan juga luar negeri. Tercatat, penonton dari New York, Sydney, Jerman, Prancis, India, Bangladesh, Kuala Lumpur, Singapura, dan sebagainya ikut menonton YGF ke-26 via daring.

Menurut Program Director YGF Ishari Sahida atau Ari Wulu, YGF selalu berusaha hadir dalam kondisi apa pun sejak 1995. Biasanya Komunitas Gayam16 menghadirkan YGF secara langsung, akan tetapi pandemi Covid-19 membuat kegiatan ini harus digelar secara daring atau online.

“Ini kedua kalinya YGF digelar secara online, meskipun tidak diadakan langsung bersama-sama tetapi, orang tetap bisa menikmati bersama-sama melalui internet yang melampaui batasan ruang dan waktu,” ujarnya dalam sambutan pembukaan YGF ke-26.

Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIY Dwi Ratna Nurhajarini mengatakan YGF ke-26 yang bisa terselenggara berkat dukungan Danais dan BPNB DIY menunjukkan kegiatan kebudayaan bisa tetap dilestarikan dengan konsep gotong-royong dan kebersamaan.

Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi yang membuka YGF ke-26 mengapresiasi kegiatan ini terlebih pada akhir tahun ini gamelan secara resmi akan disidangkan di UNESCO untuk menjadi warisan budaya Indonesia.

Dalam konser hari pertama YGF ke-26, Sanggar Anak Seni Nusantara Sekar Jati Laras menggunakan media seperangkat gamelan laras slendro dan pelog dengan memasukkan pola tabuhan langgam, dangdut, reggae hip-hop dan sebagainya. Sanggar yang berisi kumpulan anak muda alumni SMPN 4 Pandak Bantul yang pernah menjadi peserta Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) ini ingin mengajak anak-anak mendapatkan sensasi yang asyik bermain gamelan.

Dalam karyanya, sanggar yang berdiri sejak 2016 ini menyajikan komposisi karawitan karya baru yang berpijak pada seni tradisional karawitan. Sebagai pemanis, karyanya juga dilengkapi instrumen tambahan perkusif tradisonal, seperti kentongan, kalung (kelonthong) sapi, otok-otok, dan slompret toet-toet.

Selain Sanggar Anak Seni Nusantara Sekar Jati Laras, hari pertama konser gamelan YGF ke-26 juga diisi Laboratorium Suku Karinding Towѐl yang menjadi penampil kedua. Wadah kreatif dan ruang belajar non-formal ini terbentuk pada 2009 di Sekolah Tinggi Senin Indonesia (STSI) Bandung (sekarang ISBI Bandung).

Laboratorium yang digagas Dody Satya Ekagustdiman (komponis) dan Asep Nata (etnomusikolog) ini mengolah improvisasi kreativitas melalui instrumen Karinding Towѐl (karto). Instrumen ini terbuat dari bambu sebagai ekstrak dari karinding buhun (tradisi) dan dimainkan dengan cara dipetik pada ujung instrumen.

Seiring berjalannya waktu, laboratorium ini menambah kegiatan lainnya di luar kampus seperti riset musik, diskusi musik, dan eksperimen musik. Bahkan kini tidak hanya media karto saja yang digunakan, melainkan juga karinding kartu, pelokarina (pelok song), gamelan batu, dan eksperimen instrumen baru lainnya olahan dari limbah.

Sementara, penampil ketiga, Nadhaskara yang terbentuk pada Desember 2020 di Yogyakarta memadukan dua unsur musik modern dan tradisi seperti kendang Sunda, bonang Jawa, saron Banyuwangi, rebana, dan suling bali Grup ini beranggotakan Anting, Agung, Tredy, Shandro, Adnan, Rian, Rafael, Deden, dan Alan. Kelompok Nadhaskara meyakini perpaduan instrumen tradisi dan modern dapat menghasilkan sebuah warna musik baru yang bisa bersaing di pasar musik global.

Konser gamelan hari pertama ditutup dengan penampilan Lega Swara. Kelompok gamelan ini terdiri dari satu keluarga yang menunggu pandemi reda. Karya-karyanya menghasilkan alunan gamelan kontemporer yang menggugah semangat pendengarnya.

YGF ke-26 yang diikuti komposer, musisi, dan pencinta gamelan ini diselenggarakan Komunitas Gayam16 dan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) serta didukung Badan Pelestarian Nilai Budaya DIY. Seluruh rangkaian kegiatan YGF ke-26 juga menerapkan protokol kesehatan secara ketat mengingat masih dalam masa pandemi Covid-19.

Konser gamelan yang digelar selama empat hari penyelenggaraan YGF ke-26, 23 sampai 26 September 2021 mulai pukul 18.00 sampai 21.00 WIB, bukan hanya menampilkan konser karawitan tradisional, melainkan juga pertunjukan musik gamelan yang bersifat modern dan kontemporer. Partisipan tidak hanya dari Indonesia, melainkan juga India dan Prancis.

Selain gamelan konser, YGF juga menyelenggarakan workshop internal akan menghadirkan Arutala, sebuah perusahaan pengembang game Yogyakarta. Workshop ini sudah diadakan beberapa kali di Komunitas Gayam 16. Workshop ini mempelajari teknik memainkan instrumen gamelan atau komposisi yang dipadukan dengan virtual reality yang berbentuk robot. Hasil dari workshop ini akan ditampilkan dalam penutupan konser YGF ke-26.

Sementara Rembug Budaya menawarkan diskusi tentang gamelan dan perkembangannya yang disiarkan secara hybrid atau bauran daring melalui YGFlive.com. Rembug budaya akan digelar pada Sabtu, 25 September 2021 pukul 10.00 sampai 15.00 WIB. Program ini menghadirkan tamu dan narasumber secara terbatas di KJ Hotel.

Sejak 1995, YGF telah mempersembahkan kelompok gamelan dari seluruh dunia. Sesuai dengan misinya, menggagas kehidupan seni gamelan yang dinamis, selalu menyelaraskan diri dengan zaman tanpa harus kehilangan latar belakang budayanya, dan saling menghargai keanekaragaman kebudayaan di dunia, YGF berupaya untuk menciptakan dan mengelola media yang secara kontinu menjadi sarana berkumpul, berkomunikasi, dan berinteraksi bagi para pencinta seni gamelan.

Unduh versi PDF dari artikel ini di sini