Sanggar Anak Seni Nusantara Sekar Jati Laras - Bantul

Sanggar Sekar Jati Laras merupakan kumpulan anak-anak muda alumnus dari SMPN 4 Pandak yang juga peserta FLS2N (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional ) dari tahun 2016 hingga sekarang. Garapan yang disajikan berupa komposisi karawitan karya baru yang tetap berpijak pada seni tradisional karawitan.

Awal mula dibentuknya group musik tradisional Sanggar Sekar Jati Laras bermula gagasan agar setelah selesai mengikuti FLS2N tidak selesai juga dalam berkesenian. Anggota group musik tradisional Sanggar Sekar Jati Laras sudah banyak menorehkan prestasi, baik di tingkat kabupaten, provinsi, dan Nasional. Sajian musik karya Sanggar Sekar Jati Laras menggunakan media seperangkat gamelan laras slendro dan pelog dengan memasukkan pola tabuhan baik itu langgam, dangdut, reggae hip-hop dan lain lain dengan tujuan agar anak2 mendapatkan hal yg asyik dalam bermain gamelan.

Laboratorium Suku Karinding Towel - Bandung

Belajar non formal yang difokuskan pada bidang musik yang terbentuk pada 2009 di kampus Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, Jawa – Barat (sekarang ISBI Bandung) oleh Dody Satya Ekagustdiman (Komponis) dan Asep Nata (Etnomusikolog).

Awalnya, laboratorium ini hanya aktif di pojok kantin kampus STSI Bandung dengan mengolah improvisasi serta kreativitas melalui instrumen Karinding Towѐl (disingkat Karto) yang dilakukan oleh murid-muridnya Dody dan Asep dari STSI Bandung serta seniman di luar kampus STSI. Karto terbuat dari bambu sebagai ekstrak dari Karinding Buhun atau tradisi. Berdasarkan klasifikasi instrumen Hornbostel-Sachs, Karto masuk pada famili lamellophone kategori plucked idiophones dengan sumber bunyi dari getaran ‘lidah’ pada badan instrumen itu sendiri dimainkan dengan cara dipetik pada ujung instrumen.

Seiring berjalannya waktu, laboratorium ini menambah kegiatan lainnya di luar kampus seperti riset musik, diskusi musik, dan eksperimen musikhingga saat ini, bahkan bukan hanya menggunakan media Karto saja, tetapi menggunakan Karinding Kartu, Pelokarina (Pelok Song), Gamelan Batu, dan Eksperimen instrumen baru lainnya olahan dari limbah.

Nadhaskara - Bantul

Nadhaskara adalah sebuah grup musik etnik dengan jumlah personil sembilan orang. Penggabungan instrumen maupun vokal tradisi dengan modern menjadi modal utama Nadhaskara dalam berkarya. Kesembilan personil ini memiliki disiplin musik yang berbeda-beda namun telah sepakat untuk bersinergi dalam bermusik. Genre combonik adalah istilah yang telah disepakati untuk menjadikan payung Nadhaskara dalam berproses kreatif.

Nadhaskara terbentuk pada bulan Desember 2020 di Yogyakarta. Grup ini beranggotakan Anting, Agung, Tredy, Shandro, Adnan, Rian, Rafael, Deden, dan Alan. Mereka memadukan dua unsur musik modern dan tradisi seperti kendang sunda, bonang Jawa, saron Banyuwangi, Rebana, dan suling Bali. Kelompok Nadhaskara meyakini bahwasannya perpaduan instrumen tradisi dan modern dapat menghasilkan sebuah warna musik baru yang bisa bersaing di pasar musik global.

Lega Swara - Yogyakarta

Satu keluarga yang sedang menunggu pandemi reda. Mereka berusaha menutupi rasa jenuhnya dalam penantian dengan mencoba bermain dan belajar. Bermain dengan suara dan bunyi-bunyian sambil belajar menyusun suara dan bunyi-bunyian menjadi teman dikala menunggu pandemi reda

Kalacakra - Sleman

Kalacakra hanyalah sebuah nama komunitas yang pada awalnya terbentuk pada proses Pementasan Tugas Akhir Koreografi 3. Jadi dalam komunitas ini tidak ada struktur keanggotaan yang tetap, walaupun ada beberapa personil yang ikut dari awal terbentuk hingga saat ini. Meskipun tanpa adanya struktur organisasi, Kalacakra sering dipercaya untuk menjadi tim pengiring berbagai event dan jenis pertunjukan dari mulai pengiring pentas tari, ketoprak dan wayang kulit, teater hingga satu konser kolaborasi musik gamelan, tari dan wayang yang disitu semua mementaskan karya original dari Kalacakra.

Talang Barueh - Pasaman

Talang Barueh adalah sebuah komunitas seni yang berbasis di Nagari Jambak Kec. Lubuk Sikaping Kabupaten Pasaman Sumatera Barat. Komunitas Talang Barueh didirikan dengan tujuan untuk mewadahi pemuda dan pemudi dalam mengembangkan kreatifitas di bidang seni dan budaya, khususnya di Kabupaten Pasaman.

Swarasvarga - Gunung Kidul

Komunitas Musik Etnik Swarasvarga merupakan kelompok musik kreatif yang mengolah dan menggarap musik karawitan baik melalui harmoni pengolahan nada, Permainan Ritme yang tetap berpijak pada seni tradisi terutama Seni Karawitan. Penggarapan dan warna musik dari Komunitas Musik Swarasvarga cenderung lebih menitik beratkan pada instrumen alusan tabuh loro antara lain, Gambang, Gender barung, Gender penerus dan Siter dan dipadukan dengan beberapa instrument Bonang dan Balungan untuk memperkuat Karakter suara. Penggunaan Perkusi baik perkusi kulit, Kayu, maupun Logam. Selain itu Musik Etnik Swarasvarga juga menambahkan instrument musik Barat, Antara Biola, bass, Drum, Flute sehingga tercipta nuansa musik yang unik.

Anggota dan pemain Komunitas Musik Kreatif Swarasvarga merupakan gabungan Alumnus Mahasiswa ISI jurusan Karawitan, Etno Musikologi, dan Mahasiswa Musik Yang berasal dari Kabupaten Gunungkidul, swarasvarga telah melakukan berbagai pementasan antara lain Lomba cipta lagu Daerah, 2015 Jazz Festival 2017 di Gunungkidul, Geopark Night Specta dll.

Kirdaar Arts Foundation - India

Kirdaar is a Theatre and Arts Foundation from Mumbai, India, formally started working since July 28,2017. KIRDAAR is an acronym for Keeping India’s Rooted Dramatic Arts Alive and Resonating. We believe that arts is an important pillar for the community to keep on moving and growing ahead. Allowing us to connect with regional, national and international artists. With our traditional skills and contemporary approach we wish to achieve a global representation for Indian Performing Arts and Media.

Jodhipati - Gunung Kidul

Jodhipati adalah grup musik yang menggabungkan musik diatonik dan pentatonik dengan menonjolkan instrumen gamelan sebagai musik tradisionalnya. Grup ini terdiri dari pemuda-pemuda di gunungkidul dari beberapa kecamatan.

Ensemble Nist-Nah - Prancis

Ensemble Nist-Nah is a Gamelan / percussion ensemble led by France-based Australian drummer and percussionist Will Guthrie. Nist-Nah was formed in 2019 to play exploratory, contemporary and experimental works for Gamelan and percussion. The groups second LP entitled ‘Elders’ will be released on Black Truffle Records in early 2022.

Background Genk - Sleman

"Background Genk" grup yang terbentuk sejak 2 tahun yang lalu ini, adalah grup musik etnik Jawa yang personilnya merupakan anak-anak muda Sleman. Nama BACKGROUND GENK diambil dari latar belakang masing-masing personil yang memiliki bermacam-macam kesibukan, baik ada yang menjadi seorang dhalang, musisi, pelawak, kru film, namun memiliki hobi sama yaitu bermain Gamelan.

Srawung Krumpyung - Kulon Progo

Srawung Krumpyung adalah group musik krumpyung yang ada di Kulon Progo yang salah satu tujuannya adalah untuk melestarikan dan mengembangkan musik Krumpyung agar dapat dikenal oleh masyarakat luas. Metode pengembangan yang dilakukan antara lain dengan, pembuatan berbagai alat yang merupakan ciri khas musik Krumpyung seperti Kendang Bung (Kendang Bambu), Gong Bung (dengan bahan dasar Bambu Petung) yang pada musik krumpyung sebelumnya adalah Gong Sebul/ Tiup. Pengembangan yang lain adalah pembuatan stand (Rancakan) agar secara visual lebih menarik dan secara teknik mudah dimainkan. Adapun pengembangan yang lain antara lain, materi lagu yang disajikan dengan menampilkan lagu yang “Kekinian”. Dalam setiap penampilan membawakan lagu atau tembang yang diaransemen “digarap secara kekinian”. Di beberapa penampilan termasuk saat pentas di Istana Negara dalam rangka acara HUT Ke 72 Indonesia (2017) membawakan lagu-lagu yang bernuansa Keroncong dan langgam.

Joko Piturun IMUD (Ikatan Musik Daul) - Pamekasan

Joko Piturun, sebuah kelompok dari Komunitas Musik Daul yang diketuai oleh Ahmad Ramlan Ramadhani. Akan membawakan komposisi berjudul "Pajjer Laggu" menceritakan fajar pagi mataharinya mulai bersinar petani yang tidur mulai bangun mengambil clurit, cangkul, dan topi berjalan atas kewajibannya bercocok tanam guna memperbanyak hasil buminya untuk memakmurkan Negara dan bangsanya.

Komunitas IMUD sendiri berdiri tahun 2009 di saat itu banyak kalangan pemuda Pamekasan mendirikan suatu musik Daul tetapi belom ter-organisir sehingga oleh pemerintah setempat baik tingkat kabupaten maupun tingkat Jawa Timur dan nasional mengintruksikan membentuk sebuah wadah agar musik Daul tersebut bisa berkembang dan ter-organisasi maka di bentuk dibentuklah komunitas IMUD (Ikatan Musik Daul) yang di deklarasikan oleh jajaran pemkab kabupaten sendiri dan diparadekan di tengah-tengah kota kabupaten Pamekasan sebagai bentuk berdirinya komunitas IMUD tersebut.

Asal musik Daul tersebut berawal dari matinya lampu selama tiga bulan di seluruh Madura pada tahun 1998, inisiatif dari masyarakat membentuk musik patrol yang pertama kali di Pamekasan dengan bekas dan di tambah dengan alat gamelan dan terbentuklah dari musik Daul tersebut di Pamekasan hingga saat ini.

Sabda Alam IMUD (Ikatan Musik Daul) - Pamekasan

Sabda Alam, sebuah kelompok musik yang tergabung di Ikatan Musik Daul, berdiri tahun 2010 dan diketuai oleh Irwan Annas. Akan membawakan sebuah lagu berjudul "Tandhuk Majeng" menceritakan tentang perjuangan orang Madura yang mayoritas sebagai nelayan , orang Madura sendiri tak perduli malam-malam, terik matahari ,musim hujan, musim kemarau, angin kencang dan ombak yang besar mereka terus berjuang untuk menangkap ikan untuk menghidupi keluarganya meskipun nyawa sebagai taruhannya.

Komunitas IMUD sendiri berdiri tahun 2009 di saat itu banyak kalangan pemuda Pamekasan mendirikan suatu musik Daul tetapi belom ter-organisir sehingga oleh pemerintah setempat baik tingkat kabupaten maupun tingkat Jawa Timur dan nasional mengintruksikan membentuk sebuah wadah agar musik Daul tersebut bisa berkembang dan ter-organisasi maka di bentuk dibentuklah komunitas IMUD (Ikatan Musik Daul) yang di deklarasikan oleh jajaran pemkab kabupaten sendiri dan diparadekan di tengah-tengah kota kabupaten Pamekasan sebagai bentuk berdirinya komunitas IMUD tersebut.

Asal musik Daul tersebut berawal dari matinya lampu selama tiga bulan di seluruh Madura pada tahun 1998, inisiatif dari masyarakat membentuk musik patrol yang pertama kali di Pamekasan dengan bekas dan di tambah dengan alat gamelan dan terbentuklah dari musik Daul tersebut di Pamekasan hingga saat ini.

Lanceng Sengit IMUD (Ikatan Musik Daul) - Pamekasan

Kelompok musik Lanceng Sengit ini berdiri di tahun 1997 dan saat ini diketuai oleh Moh. Husen. Di helatan YGF, mereka akan membawakan lagu berjudul "Karapan Sapi" sebuah lagu yang bercerita tentang tiap tahunnya di Madura selalu ramai dengan kebiasaan adat istiadat masyarakat Madura umumnya untuk melakukan acara tahunan yaitu kerapan sapi sehingga banyak dari mengunjung yang datang mulai dari luar daerah sampai dari manca Negara yang datang untuk melihat acara tradisi tersebut di Madura.

Komunitas IMUD sendiri berdiri tahun 2009 di saat itu banyak kalangan pemuda Pamekasan mendirikan suatu musik Daul tetapi belom ter-organisir sehingga oleh pemerintah setempat baik tingkat kabupaten maupun tingkat Jawa Timur dan nasional mengintruksikan membentuk sebuah wadah agar musik Daul tersebut bisa berkembang dan ter-organisasi maka di bentuk dibentuklah komunitas IMUD (Ikatan Musik Daul) yang di deklarasikan oleh jajaran pemkab kabupaten sendiri dan diparadekan di tengah-tengah kota kabupaten Pamekasan sebagai bentuk berdirinya komunitas IMUD tersebut.

Asal musik Daul tersebut berawal dari matinya lampu selama tiga bulan di seluruh Madura pada tahun 1998, inisiatif dari masyarakat membentuk musik patrol yang pertama kali di Pamekasan dengan bekas dan di tambah dengan alat gamelan dan terbentuklah dari musik Daul tersebut di Pamekasan hingga saat ini.

Lanceng Senopati IMUD (Ikatan Musik Daul) - Pamekasan

Masih dari Ikatan Musik Daul, kali ini sebuah kelompok yang bernama Lanceng Senopati, diketuai oleh Suyitno berdiri tahun 2000, akan membawakan Lagu "Soto Madhura" menceritakan orang Madura pergi merantau ke tanah jawa untuk menjual makanan khas Madura yaitu Soto Madhura, Soto Madhura sendiri adalah makanan khas orang Madura yang terdiri dari lontong daging dan dkasih bumbu kecap yang rasanya sangat enak.

Komunitas IMUD sendiri berdiri tahun 2009 di saat itu banyak kalangan pemuda Pamekasan mendirikan suatu musik Daul tetapi belom ter-organisir sehingga oleh pemerintah setempat baik tingkat kabupaten maupun tingkat Jawa Timur dan nasional mengintruksikan membentuk sebuah wadah agar musik Daul tersebut bisa berkembang dan ter-organisasi maka di bentuk dibentuklah komunitas IMUD (Ikatan Musik Daul) yang di deklarasikan oleh jajaran pemkab kabupaten sendiri dan diparadekan di tengah-tengah kota kabupaten Pamekasan sebagai bentuk berdirinya komunitas IMUD tersebut.

Asal musik Daul tersebut berawal dari matinya lampu selama tiga bulan di seluruh Madura pada tahun 1998, inisiatif dari masyarakat membentuk musik patrol yang pertama kali di Pamekasan dengan bekas dan ditambah dengan alat gamelan dan terbentuklah dari musik Daul tersebut di Pamekasan hingga saat ini.

Putra Api Alam IMUD (Ikatan Musik Daul) - Pamekasan

Kelompok musik Putra Api Alam berdiri tahun 2018, diketuai oleh Siswanto. Akan menampilkan sebuah lagu berjudul "Budaya Madura" yang menceritakan tentang nilai budaya leluhur kita yang hampir sekian dasawarsa ini nyaris tak terdengar padahal orang Madura sejak dahulu kala dikenal sebagai seorang pelaut yang tangguh dan tak kenal menyerah dalam menghadapi setiap tantangan di tengah lautan saat sedang berlayar.

Komunitas IMUD sendiri berdiri tahun 2009 di saat itu banyak kalangan pemuda Pamekasan mendirikan suatu musik Daul tetapi belom ter-organisir sehingga oleh pemerintah setempat baik tingkat kabupaten maupun tingkat Jawa Timur dan nasional mengintruksikan membentuk sebuah wadah agar musik Daul tersebut bisa berkembang dan ter-organisasi maka di bentuk dibentuklah komunitas IMUD (Ikatan Musik Daul) yang dideklarasikan oleh jajaran pemkab kabupaten sendiri dan diparadekan di tengah-tengah kota kabupaten Pamekasan sebagai bentuk berdirinya komunitas IMUD tersebut.

Asal musik Daul tersebut berawal dari matinya lampu selama tiga bulan di seluruh Madura pada tahun 1998, inisiatif dari masyarakat membentuk musik patrol yang pertama kali di Pamekasan dengan bekas dan di tambah dengan alat gamelan dan terbentuklah dari musik Daul tersebut di Pamekasan hingga saat ini.

Candra Laras - Kulon Progo

Candra Laras berdiri pada 27 Januari 2021 yang merupakan Grup Musik Karawitan Remaja yang beralamatkan di Taruban Wetan RT 27/RW 14, Tuksono, Sentolo, Kulonprogo.